Istanbul 2005

Saat itu saya masih kelas 2 SMA, dan memang sejak SD saya sudah setia menjadi tifosi layar kaca. Dahulu sedang seru-serunya Liga Italia tapi saya kurang cocok dengan permainan lambat ala Italia.

Untuk menonton Liga Inggris sungguh menyedihkan karena di daerah saya zaman itu SCTV tidak jernih kebetulan TV rumah saya menggunakan antena dalam.

Seperti ini kira-kira jika menonton Saya menonton Liga inggris, lebih ‘kotor’ lagi bahkan. Untuk menonton Liverpool harus menunggu mereka tampil di Liga Champion. Karena RCTI jauh lebih baik saat itu.

Saat SMP saya dan keempat teman saya bertaruh ‘arisan’ siapa yang akan menjuarai Liga Champion, saat itu sudah mencapai semi final dan saya mendapat Liverpool. Kemudian pada final Liga champion melawan AC Milan. Siapa yang tidak jatuh cinta pada Liverpool?.

Melihat perjuangan keras mereka pada saat ketinggalan 3 gol. Sama sekali tidak tampak wajah patah semangat di semua pemain Liverpool saat itu. Mereka selalu percaya bahwa semuanya bisa terjadi. Jangan pernah berhenti sampai peluit berbunyi.

Dan ya, saat itulah kisah jatuh cinta pertama saya kepada tim ini.

Sempat patah hati waktu ‘terpeleset’ menjuarai Liga Inggris 2013/2014.

Patah hati kedua saat final Liga Champions 2018

Melihat permainan di final melawan Real Madrid saya sudah yakin musim selanjutnya Liverpool akan merajai Eropa. Jika mengganti kiper dengan yang lebih waras.

Dan finally setelah 14 tahun akhirnya. Sebenarnya sebagai fans layar kaca saya tidak terlalu mengharapkan trophy, menurut saya trophy hanya untuk memberikan kepercayaan diri kepada pemain-pemain Liverpool, bahwa mereka dapat memenangkan segalanya. Rasa cinta ini lebih dari sekedar trofi cieeee.

Doakan agar bisa segera ke Anfield hehe.